Banyak orang tua sulit membedakan apakah anaknya menderita mata juling atau mata malas. Mari kita uraikan: apa persamaan keduanya? Bisakah diobati dengan cara yang sama? Mungkinkah terjadi salah diagnosis atau salah penanganan? Apakah mata juling menyebabkan mata malas, atau sebaliknya?
Ambliopia, atau yang dikenal sebagai mata malas, persis seperti namanya: bola mata tetap bergerak, hanya saja “malas” dan tidak selincah mata yang lain. Pupil tetap berada di tengah, sehingga tidak tampak juling. Saat skrining penglihatan, akan terlihat jelas bahwa kedua mata bergerak dengan kecepatan berbeda, terutama karena otot mata kurang berkembang dan lemah. Mata tersebut juga tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan otak, sehingga lama-kelamaan otak mengabaikan informasi visual darinya. Anak pun hanya melihat dengan satu mata, kehilangan penglihatan 3D (stereo), dan tidak lagi mampu memperkirakan jarak dengan tepat.
Saat ini, mata malas tidak dapat diperbaiki dengan lensa korektif, obat-obatan, atau operasi. Terapi fisik justru lebih unggul, dan terapi fisik saraf optik sangat populer di kawasan ASEAN – terutama kacamata medis IONSPEC berbasis teknologi, yang sangat dipercaya pasien di ASEAN, dapat digunakan oleh segala usia, dan menunjukkan hasil klinis yang sangat menggembirakan. Mata malas tidak akan sembuh dengan sendirinya; justru akan semakin malas hingga akhirnya tidak bergerak sama sekali dan kehilangan fungsinya. Mata malas juga bisa disebabkan oleh mata juling: karena otak tidak dapat memproses dua gambar berbeda sekaligus, mata yang juling diabaikan dan perlahan menjadi malas – sehingga terjadilah mata juling sekaligus mata malas.
Mata juling terlihat jelas dari luar: bola mata dapat mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah, dan semuanya menunjukkan gangguan gerak bola mata. Ada juga juling semu (pseudostrabismus), ketika jarak antarpupil terlalu dekat atau terlalu jauh sehingga mata tampak juling. Sama seperti mata malas, mata juling biasanya terjadi pada satu mata, meski selama bertahun-tahun praktik klinis kami juga kerap menemui pasien dengan kedua mata juling. Mata juling membuat otak bingung karena bayangan ganda: saat membaca, anak mudah melompati baris, melihat tulisan bertumpuk atau kabur, sulit fokus lama, serta mengalami mata pegal, silau, dan cepat lelah. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa anak dengan rabun dekat lebih rentan mengalami juling ke dalam. Mata juling paling sering muncul di usia 5 tahun dan baru stabil setelah usia 6-7 tahun, jadi orang tua perlu mengamati dengan saksama sebelum anak masuk sekolah – kami menyarankan pemeriksaan fungsi penglihatan setiap enam bulan. Seiring kemajuan teknologi medis, orang tua masa kini tidak perlu terlalu khawatir: banyak titik buta medis perlahan teratasi berkat teknologi, dan masalah yang dulu tak tertangani kini sudah bisa diatasi. Masa depan pasti lebih baik – kami berharap para orang tua mau merangkul teknologi baru dan membuat pilihan terbijak bagi buah hati mereka.
